Aceh Tenggara Masa lalu hingga masa kini


ACEH TENGGARA MASA LALU

Kabupaten Aceh Tenggara berada di Lembah Alas, Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Sebuah hikayat menyebutkan bahwa Tanah Alas dulunya adalah sebuah danau besar, yang terbentuk pada masa Kwartnaire. Secara faktual hal ini dapat dilihat dari banyaknya nama desa atau daerah yang masih menggunakan kata pulo (pulau), ujung, dan tanjung, seperti Pulo Piku, Pulonas, Pulo Kemiri, Pulo Gadung, Pulo Latong, Tanjung, Kuta Gerat, Kuta Ujung, dan Ujung Barat. Selain itu, ditemukan banyak kuburan yang berada di atas gunung, seperti kuburan Raja Dewa di atas gunung Lawe Sikap, kuburan Panglima Seridane di atas Gunung Batu Bergoh, dan kuburan Panglima Panjang di atas Gunung Panjang. Nama alas sendiri diyakini berasal dari kata alas yang bermakna tikar atau landasan karena berbentuk lapangan yang sangat luas.

Sejarah perjuangan rakyat Indonesia membebaskan diri dari penjajahan khususnya di Aceh tidak dapat dilepaskan dari perang yang terjadi di Lembah Alas dan dataran tinggi Gayo Lues, dua wilayah yang mnejadi cikal bakal lahirnya Kabupaten Aceh Tenggara (AGARA). Beberapa pertempuran besar terjadi di Tanah Alas dan Gayo Luas, seperti perang Likat dan perang Kuta Rih. untuk Susunan pemerintahan di seluruh Aceh mulai dibenahi pada awal tahun 1946 dengan mengelompokkan daerah-daerah yang berada “di tengah” Aceh, yakni Takengon, Gayo Lues, dan Tanah Alas ke dalam satu keluhakan yang disebut Keluhakan Aceh Tengah. Ibukota keluhakan direncanakan digilir setiap enam bulan antara Takengon, Blangkejeren, dan Kutacane.

Jarak yang sangat jauh dan waktu tempuh yang sangat lama antara Kutacane ke Takengon (sekitar 250 km ditempuh dalam waktu 5-8 hari dengan jalan kaki) atau kalau menggunakan kenderaan harus melalui Medan, Aceh Timur, dan Aceh Utara dengan menempuh jarak sekitar 850 km, menyebabkan pelaksanaan pemerintahan tidak berjalan efektif. Terlebih lagi pada tanggal 21 September 1953 meletus Peristiwa Aceh (Daud Bereueh), yang mendorong beberapa tokoh yang berasal dari Sumatera Utara mencoba memasukkan daerah Tanah Alas ke dalam wilayah Sumatera Utara. Namun upaya ini tidak mendapat dukungan dari rakyat di Tanah Alas. Pada tahun 1956 Pemerintah Pusat menyadari bahwa salah satu penyebab meletusnya Peristiwa Aceh adalah dileburnya Provinsi Aceh ke dalam propinsi Sumatera Utara dan memutuskan untuk mengembalikan status propinsi kepada Aceh. Hal ini semakin mendorong pemimpin di Tanah Alas dan Gayo Lues untuk membentuk kabupaten sendiri, terlepas dari Kabupaten Aceh Tengah.

Awal berdirinya Kab. AGARA adalah ketika pada tanggal 6 Desember 1957 terbentuk suatu Panitia Tuntutan Kabupaten Aceh Tenggara melalui sebuah rapat di sekolah MIN Prapat Hulu dengan dihadiri sekitar 60 orang pemuka masyarakat Tanah Alas dan Gayo Lues. Hasil rapat menunjuk T. Syamsuddin menjadi ketua formatur untuk membentuk panitia tuntutan rakyat Tanah Alas dan Gayo Lues, dengan dibantu oleh beberapa tokoh masyarakat. Rekomendasi dari rapat tersebut adalah (1) ibukota kabupaten Aceh Tengah dipindahkan dari Takengon ke Kutacane, dan (2) jika tidak memungkinkan memindahkan ibukota ke Kutacane, Kewedanan Tanah Alas dan Kewedanan Gayo Lues dijadikan satu kabupaten tersendiri yang tidak terlepas dari Propinsi Aceh. Pada tanggal 18 Desember terbentuk Panitia Aksi Tuntutan Rakyat Tanah Alas dan Gayo Luas dengan ketua terpilih T. Syamsuddin. Pada tahun 1957 diadakan rapat raksasa di Kuatacane dnegan dihadiri sekitar 200.000 orang untuk menyatakan sikap mendukung pembentukan Kabupaten Aceh Tenggara.

Kehadiran Lettu Syahadat pada tahun 1957 sebagai Kepal Staf Sektor VII KDMA membawa angin segar bagi upaya pembentukan Kabupaten Aceh Tenggara. Gubernur Aceh kemudian menunjuk Syahadat sebagai Kepala Perwakilan Kabupaten Aceh Tengah untuk Tanah Alas dan Gayo Luas di Kutacane, yang kemudian menyusun Catur Program Pembangunan Aceh Tenggara.

Setalah melalui perjuangan tanpa kenal lelah, akhirnya Mayor Syahadat berhasil meyakinkan Pangkowilhan I Letjend. Koesno Oetomo untuk secara de facto menyatakan mengesahkan Daerah Tanah Alas dan Gayo Luas Menjadi Kabupaten Aceh Tenggara pada tanggal 14 Nopember 1967. Pada 22 Desember 1972 Pemerintah Pusat mengirim tim yang dipimpin Sekretaris Jenderal Departemen Dalam Negeri Mayjend. Sunandar Priyosudharmo (belakangan menjadi Gubernur Jawa Timur) untuk mengecek persiapan terakhir di Kutacane. Pada tahun 1974, setelah berjuang selama 17 tahun sejak tahun 1956, Pemerintah akhirnya menerbitkan UU No. 4/1974 tentang Pembentukan Kabupaten Aceh Tenggara dan peresmiannya dilakukan oleh Menteri Dalam Negeri H. Amir Machmud pada tanggal 26 Juni 1974 dalam suatu acara yang khidmat di Kutacane. Pada hari itu juga Gubernur/KDH Istimewa Aceh A. Muzakkir Walad melantik Syahadat sebagai Pejabat Bupati/KDH Aceh Tenggara. Pada tanggal 24 Juli 1975 Syahadat secara definitif diangkat sebagai Bupati Aceh Tenggara yang pertama.

Bupati berikutnya setelah H. Syahadat (menjabat sejak tahun 1975 sampai 1981) adalah T. Djohan Syahbudin, SH, (periode 1981-1986), Drs. H. T. Iskandar, (periode 1986-1991), Drs. H. Syahbuddin BP (periode 1991-2001), dan H. Armen Desky (sejak 2001 sampai sekarang). Sejak dulu sampai sekarang ini Kabupaten AGARA merupakan bagian dari Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam.

Awalnya wilayah AGARA sangat luas, tepat berada di tengah-tengah pegunungan Bukit Barisan, yang membentang dari utara ke tenggara. Pada tahun 1904, oleh Overste Van Daalen, dalam perjalanan menyerang kubu-kubu pertahanan pejuang Tanah Alas dan Gayo Luas, telah membuat batas-batas Tanah Alas dan Gayo Luas, yakni:

  • Sebelah utara berbatasan dengan Gunung Intem-Intem dan Gayo Luas;
  • Sebelah selatan berbatasan dengan batas Bahbala Barat (Toba) dan Lau Baleng (Karo);
  • Sebelah timur berbatasan dengan Lokop dan Peureulak
  • Sebelah barat berbatasan dengan Kluet (Singkil) dan Barus, dengan catatan bahwa Bahbala Barat, Lau Baleng, Lokop dan Bahorok masuk wilayah Tanah Alas dan Gayo Lues.

Luas wilayah Tanah Alas dan Gayo Lues pada waktu itu adalah 10.487 km2 atau sama dengan 1.048.700 Ha dengan jumlah penduduk sebanyak 12.400 jiwa. Sebelum pemekaran pada tahun 2002, luas wilayah AGARA adalah 9,635 km2. Setelah terjadi pemekaran wilayah dengan lahirnya Kabupaten Gayo Lues pada tanggal 10 April 2002, berdasarkan UU No.4/2002, wilayah AGARA tinggal 4.231,41 km2 dengan sebagian besar wilayah berada di Lembah Alas.

KABUPATEN ACEH TENGGARA SAAT INI

Secara geografis, Kabupaten Aceh Tenggara terletak antara 3055’23”– 4016’37” LU dan 96043’23‘–98010’32” BT. Di sebelah utara berbatasan dengan dengan Kabupaten Gayo Lues, di sebelah timur dengan Provinsi Sumatera Utara dan Kabupaten Aceh Timur, di sebelah selatan dengan Kabupaten Aceh Selatan, Kabupaten Aceh Singkil dan Provinsi Sumatera Utara, dan di sebelah barat dengan Kabupaten Aceh Selatan.

Wilayah Kabupaten AGARA terletak diketinggian 25-1000 meter di atas permukaan laut, berupa daerah perbukitan dan pegunungan. Sebagian kawasannya merupakan daerah suaka alam Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL). Suhu udara berkisar antara 25 sampai 320 Celsius.

Hingga tahun 2003, jumlah penduduk Kabupaten Aceh Tenggara adalah 169.409 jiwa dengan kepadatan 37 jiwa/km2. Komposisi penduduk terdiri dari 77.385 laki-laki dan 92.024 perempuan dengan tingkat pertumbuhan 1,67% per tahun. Secara administratif, Kabupaten Aceh Tenggara terbagi dalam 11 kecamatan, 1 kelurahan, dan 249 desa. Penyelenggaran pemerintahan saat ini dipimpin oleh bupati dan wakil bupati yang membawahi unsur sekretariat daerah, 7 badan, 16 dinas, dan 7 kantor. Kesebelas kecamatan yang ada di AGARA adalah: Lawe Alas, Lawe Sigala-Gala, Babul Makmur, Bambel, Babussalam, Badar, Darul Hasanah, Lawe Bulan, Bukit Tusam, Semadam, dan Babul Rahmah.

Visi Pemerintah Kabupaten Aceh Tenggara
“Terwujudnya masyarakat Kabupaten Aceh Tenggara yang sejahtera, berbudaya,
berwawasan agroekonomi berasaskan iman dan takwa”

Pernyataan visi di atas disertai dengan harapan bahwa pada akhirnya:

  • Terbentuk suatu masyarakat yang bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, berbudi luhur, berkompetensi, dan berdisiplin;
  • Terbentuknya suatu etos kerja yang baik pada diri aparatur Pemerintah Daerah dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat;
  • Terbentuknya masyarakat yang memahami dan mendukung upaya pelestarian lingkungan hidup (green-society); dan
  • Tumbuhnya perasaan ikut memiliki dan kebanggaan sebagai bagian dari masyarakat Aceh Tenggara.

Misi Kabupaten AGARA

  • Pengembangan perekonomian masyarakat berdasarkan konsep ekonomi kerakyatan.
  • Peningkatan kualitas sumberdaya manusia (SDM) Aceh Tenggara.
  • Peningkatan partisipasi masyarakat dan kemitraan sinergis antar pelaku pembangunan.
  • Penguatan unsur-unsur Syariat Islam.
  • Penegakkan supremasi hukum.
  • Pelestarian Kawasan Ekosistem Leuser (KEL) dan Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) serta pemanfaatan sumberdaya alam (SDA) untuk kesejahteraan rakyat Aceh Tenggara.

KEKAYAAN ALAM

Kabupaten Aceh Tenggara memiliki banyak kakayaan alam. Kekayaan alam tersebut terdiri dari kekayaan yang bersifat dapat diperbaharui (renewable) seperti hutan, sungai, dan lahan pertanian, serta kekayaan yang bersifat tidak dapat diperbaharui (non-renewable) seperti bahan tambang dan mineral. Tanah yang memiliki kesuburan yang tinggi sangat mendukung pertanian tanaman pangan, baik tanaman keras maupun tanaman palawija.

Keberadaan Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) merupakan daya tarik tersendiri bagi ilmuwan dan peneliti dari dalam dan luar negeri. Taman nasional ini ditetapkan sebagai Taman Nasional oleh Menteri Pertanian Republik Indonesia pada tanggal 8 Maret 1980. TNGL merupakan hutan tropis tercantik dan terbesar di Asia Tenggara. TNGL mempunyai keistimewaan berupa keanekaragaman flora dan fauna. Diperkirakan ada sekitar 3.500 jenis flora termasuk tanaman langka Raflesia atjehensisi dan Johannesteinimania altifrons (pohon payung raksasa) serta Rizanthes zippelnii yang merupakan bunga terbesar, langka dan dilindungi dengan diameter 1,5 meter. Ada juga sekitar 130 jenis mamalia dengan hampir tiga perempatnya termasuk jenis langka. Hewan liar dilindungi yang hidup di TNGL antara lain Harimau Sumatera (Phanteratigris sumateraenis), Orang Utan (Pongo pygmaeus), Siamang (Hylobates syndactilus), Kera (Macaca fascicularis), Beruk (Macaca nemestriana), Gajah (Elephas maximus), dan Sarudung (Hylobates lar).

Kedatangan para ilmuwan dan peneliti ini dapat memberikan sumbangan sangat berarti bagi perkembangan ilmu pengetahuan dalam bidang biologi, kehutanan, aliran sungai, dan pertanian. Luas wilayah Taman Nasional Gunung Leuser adalah 1.094.692 hektar yang sebagian besar berada di wilayah AGARA dan sisanya masuk Kabupaten Aceh Timur, Gayo Lues, Aceh Selatan, Aceh Tengah, dan Langkat (Provinsi Sumatera Utara). Di tengah-tengah wilayah AGARA mengalir sungai Alas yang memiliki arus yang cukup deras dan menantang pagi penggemar olahraga arung jerang (rafting). Dari Kutacane, ibukota Kabupaten Aceh Tenggara, TNGL dapat dicapai dengan kenderaan umum dengan waktu tempuh sekitar setengah jam.

Kabupaten AGARA termasuk zona pertanian di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, bersama Kabupaten Aceh Barat, Aceh Selatan dan Aceh Tengah karena sumberdaya alam dan penduduknya mayoritas hidup di sektor pertanian. Namun, dari luas keseluruhan wilayahnya, hanya 9,74% yang dimanfaatkan sebagai lahan budidaya. Lahan pertanian yang ada di Kabupaten Aceh Tenggara selama ini dapat memenuhi kebutuhan masyarakat, bahkan pada beberapa tahun yang lalu dapat melakukan pengiriman ke luar daerah.

Jenis tanah di AGARA terdiri dari inseptisol, entisol, dan ultisol dengan tingkat kesuburan tanah agak subur hingga kurang subur. Menurut studi yang dilakukan oleh Universitas Sumatera Utara pada 2003, areal pertanian di wilayah Kabupaten AGARA cocok untuk tanaman pangan seperti padi, palawija, sayuran, dan buahbuahan. Tanaman perkebunan yang dikelola secara tradisional sangat dominan berupa tanaman karet, kakao, kopi, nilam, kemiri, dan tembakau, yang sangat menonjol dari aspek luas areal dan jumlah produksi.

Budidaya ikan air tawar dan peternakan juga memiliki prospek bagus pada masa yang akan datang. Kabupaten AGARA merupakan daerah yang cocok untuk budidaya ikan mas karena memiliki struktur tanah yang baik dan air yang melimpah, yang bersumber dari pegunungan Bukit Barisan. Budidaya ikan air tawar dapat dilaksanakan hampir di seluruh kecamatan di Kabupaten AGARA.

Sejak lama jumlah produksi tanaman pangan di AGARA dapat mencukupi kebutuhan sendiri. Luas lahan persawahan di wilayah AGARA adalah 17.224 Ha yang terdiri dari sawah beririgasi 2.500 Ha, sawah berpengarian sederhana 13.972 Ha dan sawah tadah hujan 752 Ha. Dengan luas yang sedemikian itu, wilayah ini mampu menghasilkan 107.153 ton gabah kering selama tahun 2004 dengan produktivitas 5,51 ton per hektar. Wilayah yang menghasilkan produksi gabah terbesar adalah kecamatan Lawe Alas total hasil panen selama tahun 2004 sebesar 18.832 ton. Selain tanaman padi, terdapat juga jagung yang luas tanamnya 27.054 Ha dengan produksi sebesar 151.092,85 ton dan kedelai 133,99 ton.

Jenis tanaman perkebunan potensial di wilayah Aceh Tenggara adalah kemiri, karet, kopi, kelapa, dan coklat. Belakangan ini, yang jumlah produksinya mengalami pertumbuhan sangat pesat adalah coklat atau kakao karena penanaman coklat oleh masyarakat baru dilakukan sekitas sepuluh tahun terakhir. Limpahan produksi coklat ini sangat membantu perekonomian masyarakat karena harganya relatif tinggi dan stabil. Perikanan air tawar di AGARA sebenarnya sangat menjanjikan. Selain ketersediaan air yang melimpah dari kaki pegunungan Bukit Barisan, iklim AGARA juga sangat cocok untuk membudidayakan berbagai jenis ikan air tawar. Selama ini yang sudah dibudidayakan adalah ikan Mas dan Mujair. Namun prospek yang bagus juga ada pada pembudidayaan ikan jurung, lele, belut, dan gabus, yang selama ini ditangkap dari sungai-sungai yang ada di wilayah AGARA. Luas kolam dan sawah untuk pemeliharaan ikan adalah 4.534,17 Ha dengan jumlah produksi keseluruhan pada tahun 2004 adalah 9,170,5 ton. Jumlah produksi ikan mas pada tahun 2004 adalah 243,80 ton dan ikan mujair 1.152,54 ton. Jumlah rumah tangga yang memiliki kolam ikan adalah 927 dan yang membudidayakan ikan di sawah adalah 1.949.

Jenis ternak yang dibudidayakan masyarakat daerah Aceh Tenggara dominannya adalah Kerbau dan Sapi, namun banyak juga yang membudidayakan Kambing, Domba dan Unggas. Konsumsi daging selama tahun 2004 adalah daging unggas 192.436 ton, kerbau 122.470 ton dan sapi 84.746 ton, sedangkan konsumsi daging kambing mencapai 22.527 ton dan domba 12.200 ton.

KONDISI SOSIAL DAN EKONOMI

Laju pertumbuhan ekonomi Kabupaten Aceh Tenggara tahun 2004 adalah sebesar 2,23% atau mengalami peningkatan sebesar 0,45% dibanding tahun sebelumnya. Sementara itu, pertumbuhan penduduk Kabupaten Aceh Tenggara relative baik, yakni sekitar 1,07% per tahun. Angka pertumbuhan ini tercapai tak lepas dari keberhasilan progam keluarga berencana dan adanya migrasi keluar masyarakat AGARA untuk mencari kerja. Angkatan kerja yang terdaftar di Kantor Transmigrasi dan Tenaga Kerja Kabupaten Aceh Tenggara berjumlah 2.605 orang dengan komposisi utama tenaga kerja berpendidikan SLTA.

Penduduk di Kabupaten Aceh Tenggara terdiri dari beberapa suku, yang terbanyak adalah suku Alas di samping suku yang lain seperti Gayo, Singkil, Jawa, Mandailing, Minang, Karo, Aceh, dan Batak. Jumlah penduduk AGARA pada akhir tahun 2004 berjumlah 169.409 jiwa dengan kepadatan penduduk 40 jiwa per km2 yang terdiri dari 77.385 laki-laki dan 92.024 perempuan. Jumlah kelahiran pada tahun 2004 adalah 1.171 kelahiran.

Pendidikan merupakan pilar pembangunan masyarakat. Pemerintah Kabupaten Aceh Tenggara juga sangat menyadari hal ini dan telah berupaya untuk memaksimalkan pelayanan pendidikan kepada masayarakat. Namun, keterbatasan dana menjadi alasan klasik mengapa kualitas pendidikan di Kabupaten Aceh Tenggara masih harus ditingkatkan. Saat ini terdapat sebanyak 797 murid TK, 31.195 murid SD dan MIN, 10.346 murid SLTP, dan 7.162 murid SLTA. Sementara jumlah guru SD 1.140, SLTP 248, dan SLTA 160. Jumlah guru ini masih belum memadai.

Saat ini terdapat beberapa perguruan tinggi di Kabupaten Aceh Tenggara, di antaranya Perguruan Tinggi Gunung Leuser (PTGL), STAISES, dan STKIP Bina Bangsa, yang memiliki program studi manajemen, pertanian, agama Islam, dan keguruan/pendidikan. Perguruan tinggi ini memberikan kontribusi yang sangat berarti bagi peningkatan kualitas sumberdaya manusia di AGARA. Indeks Pembangunan Manusia (human development index) Kabupaten AGARA pada tahun 1999 adalah 63,9 dan pada tahun 2002 sebesar 66,8. Angka HDI ini relatif bagus dibanding rata-rata provinsi (65,3 pada tahun 1999 dan 66,0 pada tahun 2002). Secara Nasional, HDI AGARA berada pada peringkat ke 154 pada tahun 1999 dan peringkat 148 pada tahun 2002.

KESEHATAN

Fasilitas kesehatan yang ada di Kabupaten Aceh Tenggara masih sangat minim. Hanya terdapat 1 unit Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD), 13 unit Puskesmas, 40 unit Puskesmas pembantu, dan 8 unit Puskesmas keliling sebanyak. Sementara tenaga dokter dan tenaga masih jauh dari mencukupi. Saat ini ada 15 orang dokter umum, 1 orang dokter gigi, dan 174 orang bidan serta 96 orang perawat yang melayani sekitar 160.000 jiwa penduduk. Rasio ini masih sangat kecil dan membutuhkan kebijakan pengadaan tenaga dokter dan tenaga medis yang lebih serius.

AGAMA

Kehidupan beragama di AGARA sangat baik. Hampir tidak pernah terjadi konflik yang mengarah pada isu SARA (suku, agama, ras dan antar-golongan). Keharmonisan ini dilatari oleh keberagaman suku bangsa dan sikap ramah dan mau menerima pandangan orang lain yang melekat dalam diri masyarakat AGARA.

Mayoritas penduduk AGARA beragama Islam. Jumlah sarana ibadah berupa Mesjid adalah 175 unit, Mushala 203 unit dan surau 45 unit. Sementara penduduk yang beragama Keristen berjumlah sekitar 17% dari seluruh jumlah penduduk dan memiliki 9 unit gereja katolik dan 114 unit gereja protestan. Tidak kurang dari 49 pesantren tersebar di seluruh wilayah Aceh Tenggara dengan jumlah santri 3.349 dan tenaga pengajar (ustadz dan ustadzah) sebanyak 130 orang.

Dengan adanya Keistimewaan Aceh berdasarkan UU No. 18/2001, Syariat Islam sebagai dasar dalam pembuatan hukum (qanun) dan pemerintahan di Provinsi Naggroe Aceh Darussalam, maka kehidupan masyarakat Aceh Tenggara tak terlepas dari keharusan untuk senantiasa melakukan penguatan atas pelaksanaan Syariat Islam. Program penguatan pelaksanaan Syariat Islam mempunyai makna bahwa Pemerintah Daerah membuat langkah-langkah kebijakan yang memberikan arah terhadap pemahaman yang utuh atas Syariat Islam melalui pelibatan semua lapisan masyarakat dengan alim ulama sebagai ujung tombak.

SARANA DAN PRASARANA

Wilayah Kabupaten Aceh Tenggara yang diapit oleh pegunungan Bukit Barisan, memiliki keunikan tersendiri. Pembuatan kebijakan pembangunan sarana dan prasarana membutuhkan pertimbangan tersendiri mengingat adanya kawasan TNGL yang mengitari wilayah AGARA, sementara di tengah-tengah Lembah Alas mengalir sungai Alas yang membentang dari utara ke tenggara. Pembangunan yang sudah berjalan selama ini menghasilkan ruas jalan sepanjang 720,78 km, yang 271,92 km di antaranya telah diaspal dengan baik. Musibah banjir banding yang terjadi pada tahun 2004 dan 2005 telah mengakibatkan banyak sarana dan prasaranan yang mengalamai kerusakan, seperti jembatan, jalan raya, kantor, dan fasilitas lainnya, namun telah diperbaiki sesuai dengan kondisi awal, bahkan ada yang lebih bagus lagi.

Sarana perhubungan dan telekomunikasi lain yang ada adalah kantor pos, perbankan, dan telepon seluler, yang tersebar sampai di kecamatan. Bank-bank pemerintah yang terdapat di Aceh Tenggara adalah Bank Pembangunan Daerah.

Yang tak kalah penting adalah telah terbangunnya lapangan udara Alas Leuser yang sudah bias didarati pesawat kecil secara regular dua kali seminggu. Ke depan diharapkan bandara ini dapat menjadi pintu keluar-masuk wisatawan dan masyarakat yang membutuhkan waktu cepat dan ingin melihat pemandangan Lembah Alas dari udara. Dengan adanya bandara ini, waktu tempuh Kutacane-Medan menjadi hanya sekitar 25 menit. Selain menghemat waktu, penerbangan ini juga menghemat biaya karena ongkos per penumpang relatif murah dan tidak jauh berbeda dengan ongkos bis kecil yang melalui jalur Kutacane-Medan.

Fasilitas umum lain seperti pasar, terminal, stadion, gedung olah raga, kolam renang, lapangan, balai pertemuan, dan taman sudah cukup memadai. Stadion H. Syahadat dan GOR Sepakat Segenep sudah memenuhi standar untuk melaksanakan event olahraga tingkat provinsi dan nasional sehingga dapat digunakan untuk melaksakanan Pekan Olahraga Daerah (Porda).

Sarana transportasi umum relatif sudah mencukupi. Transportasi penumpang dalam daerah dilayani oleh lebih dari 160 kenderaan umum dan luar daerah, terutama ke Medan, Provinsi Sumatera Utara dan Kabupaten Gayo Lues dilayani oleh lebih dari 70 kenderaan berupa bis kecil dan 4 bus besar.

Untuk angkutan barang dari dan ke Kota Medan, saat ini terdapat setidaknya 134 truk yang setiap hari melintasi perbatasan Provinsi NAD – Provinsi Sumatera Utara. Dari Medan truk-truk tersebut membawa kebutuhan masyarakat berupa sandang dan pangan seperti gula pasir, minyak goreng, pakaian, tepung terigu, dan aneka ragam mi, alat-alat kantor, dan mesin-mesin, sementara dari Aceh Tenggara membwa hasil-hasil bumi seperti kemiri, pinang, kakao, gabah, jagung, karet, buah-buahan, ikan, gula aren, dan komoditi lainnya. Dalam pembuatan kebijakan transportasi ini, Pemerintah Daerah melibatkan pihak swasta untuk mengoperasikan angkutan umum, baik di wilayah AGARA sendiri maupun yang mencapai luar wiliayah AGARA.

Hampir semua desa di Kabupaten Aceh Tenggara telah ada listriknya khususnya listrik dari PLN. Jumlah pelanggan kian bertambah setiap tahunnya. Untuk tahun 2004 jumlah pelanggan listik mencapai 25.375 pelanggan. Jumlah pelanggan terbesar ditemui pada Kecamatan Babussalam yakni 3.998 pelanggan.

Perusahaan Daerah Air Minum Aceh Tenggara selama tahun 2004 telah menyalurkan air sebanyak 67.599 m3 dengan jumlah pelanggan sebanyak 3.559 pelanggan. Kualitas air belum memenuhi standar kesehatan seperti yang disyaratkan oleh organisasi kesehatan dunia (WHO). Dalam kenyataannya masih banyak daerah kecamatan yang belum terjangkau jaringan PDAM seperti Kecamatan Lawe Alas, Babul Rahmah, dan Darul Hasanah.

Perusahaan yang bergerak di sektor industri di AGARA tidak banyak dan umumnya bergerak dalam bidang pembuatan meubel dan kerajinan kayu lainnya. Perusahaan di sektor konstruksi dan perdagangan relatif banyak, begitu juga Industri kecil dan menengah serta Industri rumah tangga. Salah satu hasil kerajinan rakyat yang terkenal dari daerah ini adalah anyaman tikar pandan, pakaian adat, peci, sajadah, dan souvenir dengan motif khas Alas dan Gayo. Produksi industri kecil atau industri rumah tangga ini masih relatif kecil dan umumnya hanya dikonsumsi oleh konsumen lokal. Pada tahun 2004, UKM di AGARA berjumlah 277 dengan mempekerjakan 1.320 karyawan dengan nilai investasi sevesar Rp6.211.600.000 dan jumlah produksi senilai Rp22.103.255.000.

SENI BUDAYA

Kabupaten Aceh Tenggara memiliki kekayaan budaya tersendiri yang berbeda dengan daerah lain di Aceh. Kesenian tradisional yang telah mendunia adalah Tari Saman yang sering disebut Tari Tangan Seribu. Pada tahun 1994 tari ini pernah tampil di Spanyol dan di beberapa negara Eropa lainnya dan sering tampil di Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta.

PARIWISATA

Pengembangan pariwisata di Aceh Tenggara diarahkan pada pemanfaatan sector pariwisata untuk meningkatkan PAD dengan penekanan pada pariwisata alam (natural tourism). Sasaran dari pembangunan pariwisata adalah meningkatkan arus kunjungan wisatawan mancanegara dan wisatawan domestik dari tahun ke tahun.

Beberapa tahun terakhir kepariwisataan di AGARA tidak dapat berjalan dengan baik karena adanya masalah keamanan. Namun, seiring dengan disepakatinya Memorandum of Understanding (MoU) antara Pemerintah Republik Indonesia dengan GAM (Gerakan Aceh Merdeka), pariwisata di AGARA diharapkan dapat bergairah lagi. Pemerintah daerah telah mengalokasikan anggaran yang signifikan untuk mendukung promosi dan perbaikan sarana dan prasaran pariwisata di AGARA.

Berbagai objek wisata di AGARA yang dapat dijadikan daerah tujuan wisata alam di AGARA adalah Ketambe, Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL), Lawe Gerger, Lawe Sikap, Gurah, Lawe Harum, Uning Segugur, dan Gunung Perkison, Gunung Bendahara, dan Gunung Kemiri di pegunungan Bukit Barisan.

Objek-objek wisata ini dapat digunakan untuk tujuan pendidikan dan penelitian ataupun rekreasi dan olahraga. Untuk tujuan pendidikan sudah ada laboratorium penelitian dan camping ground yang dapat digunakan oleh siswa dan mahasiswa, serta peneliti dari lembaga-lembaga penelitian dan universitas dalam bidang biologi, kehutanan, ekologi, zoologi, dan iklim.

Untuk rekreasi dan olahraga, arus deras sungai Alas menawarkan tantangan yang menggairahkan bagi pengarung jeram, sementara lubuk-lubuk sungai menyediakan ikan-ikan segar untuk penghobi memancing ikan. Lintasan setapak yang membelah hutan lebat, yang sering digunakan oleh masyarakat untuk mencari rotan dan minyak damar, merupakan track yang menarik bagi pecinta hikking. Terdapat banyak jalan setapak yang menghubungkan antar desa di pinggiran TNGL, sampai ke tengah rimba raya yang di dalamnya terdapat danau-danau dan sungai-sungai kecil yang banyak ikannya. Dengan menggunakan jasa pemandu lokal, yang umumnya terdiri dari pemuda-pemuda kampung, wisatawan dapat menikmati keindahan rimba raya yang selama ini hanya dapat dilihat di televisi.

PELUANG INVESTASI

Kab. AGARA masih membutuhkan investasi yang besar untuk bisa berkembang dan bersaing dengan daerah lain. Peningkatan pelayanan kepada masyarakat harus diimbangi dengan semakin luasnya lapangan pekerjaan dan adanya insentif untuk meningkatkan investasi di daerah sehingga terjadi sinergi yang berkesinambungan antara Pemerintah Daerah dengan swasta untuk menyediakan kebutuhan publik. Sinergi yang baik antara Pemerintah Daerah dengan investor merupakan modal penting untuk mempercepat laju pertumbuhan ekonomi di AGARA. Untuk mendorong semakin baiknya iklim investasi di AGARA, Pemerintah Daerah membuat berbagai kebijakan untuk mempersingkat birokrasi perijinan. Pelayanan satu atap merupakan pendekatan yang digunakan untuk mempermudah dan mempercepat pelayanan kepada publik sehingga lebih efektif dan efisien, baik dari aspek biaya maupun waktu.

Pemanfaatan berbagai peluang investasi di AGARA diaharapkan dapat menciptakan iklim bersaing dan kreatifitas di kalangan pengusaha lokal dan luar daerah. Persaingan dibutuhkan untuk menimbulkan efek berganda berupa semakin tumbuhnya usaha kecil yang menyokong suatu investasi besar dan terciptanya suatu jalinan keterhubungan di antara nilai (value) yang dihasilkan oleh setiap proses produksi. Peluang investasi di AGARA menurut bidang atau sektor pemerintahan adalah sebagai berikut:

Pertanian

Potensi:
- Potensi lahan sawah: 29.000 Ha
- Komoditas unggulan: Padi, jagung, ubi kayu.
Peluang investasi:

  1. Pengembangan tanaman obat.
  2. Pemanfaatan teknologi tepat guna untuk meningkatkan nilai tambah komoditas yang dihasilkan.
  3. Kerjasama pemasaran hasil-hasil pertanian.
  4. Kerjasama penelitian dan pengkajian penerapan teknologi tepat guna.

Perkebunan dan Kehutanan

Potensi:
Jenis tanaman: Karet, Kakao, Kemiri.

Peluang investasi:
Program prioritas pembangunan untuk memanfaatkan potensi perkebunan dan
kehutanan adalah:

  1. Pengembangan tanaman kakao, karet, dan kemiri dengan pola tanam modern.
  2. Pengelolaan hasil perkebunan dan kehutanan dengan tekhnologi modern pasca panen.
  3. Pengembangan teknologi tepat guna untuk pengolahan hasil hutan yang dapat digunakan oleh industri kecil dan rumah tangga.
  4. Kerjasama pemasaran komoditas perkebunan dan kehutanan, seperti gula aren, bubuk coklat, bubuk kopi.

Peternakan
Potensi:
Ternak besar:  Sapi (10.000 ekor), kerbau (2.400 ekor), kuda (200 ekor).
Ternak kecil:  Kambing (22.000 ekor), domba (9.000 ekor).
Unggas: Ayam ras, ayam kampung, itik, dan puyuh (450.000 ekor).

Peluang investasi untuk peternakan ini di antaranya adalah:

  1. Kemitraan usaha bidang peternakan.
  2. Teknologi peternakan modern.
  3. Kerjasama pemasaran.
  4. Penyediaan bibit unggul.
  5. Pemberian kredit lunak usaha peternakan.

Perikanan
Potensi hasil perikanan air tawar:
Ikan mas, ikan mujair, ikan jurung, ikan sepat, ikan lele, ikan gabus.
Peluang investasi:

  1. Pemasaran produk hasil perikanan air tawar.
  2. Pembibitan dan pengembangan varietas ikan air tawar.
  3. Pengembangan industri kecil dengan bahan baku ikan, seperti pembuatan pelet, pengawetan ikan kering.

Pariwisata

Peluang investasi:

  1. Pengembangan sarana dan prasarana pariwisata.
  2. Pembangunan hotel dan restoran.
  3. Kerjasama promosi dalam bidang pariwisata.
  4. Manajemen pariwisata.
  5. Pengadaan tempat hiburan dan rekreasi untuk anak-anak.

Referensi
Rahman, H. Abdul, M. Salim Wahab, dan Hasanuddin Darjo. 1993. Sejarah Singkat
Lahirnya Kabupaten Aceh Tenggara.

2 Responses

  1. perkenalkan terlebih dahulu, saya adalah putra Aceh tenggara, kelahiran Kuta Tengah Kec. Lw. Sigala.
    Senang sekali menemukan situs ini dan ingin bergagi untuk memajukan Aceh Tenggara.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: