Gunung Merapi di Aceh


GUNUNG MERAPI DI ACEH

Gunung api adalah lubang kepundan atau rekahan dalam kerak bumi tempat keluarnya cairan magma atau gas atau cairan lainnya ke permukaan bumi. Matrial yang dierupsikan ke permukaan bumi umumnya membentuk kerucut terpancung.

Gunungapi diklasifikasikan ke dalam dua sumber erupsi, yaitu (1) erupsi pusat, erupsi keluar melalui kawah utama; dan (2) erupsi samping, erupsi keluar dari lereng tubuhnya; (3) erupsi celah, erupsi yang muncul pada retakan/sesar dapat memanjang sampai beberapa kilometer; (4) erupsi eksentrik, erupsi samping tetapi magma yang keluar bukan dari kepundan pusat yang menyimpang ke samping melainkan langsung dari dapur magma melalui kepundan tersendiri.

Di Aceh saat ini ada tiga terdapat gunung api yang hingga saat ini masih aktif yaitu; Gunung Peuet Sague yang terdapat di Aceh Pidie, Gunung Seulawah terdapat di Aceh Besar dan Gunung Bur Ni Telong di Bener Meriah. Dibawah ini coba kami paparkan keadaan ketiga gunung tersebut yang bersumber dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Indonesia, mungkin masih banyak kekurangan jadi mohon masukan dan tanggapannya:

1.  GUNUNG Puet Sague

Gunung Puet Sague adalah sebuah gunung berapi yang terletak di wilayah Kecamatan Meureudu, Kabupaten Sigli wilayah Pidie Propinsi Aceh. Gunung ini menjulang tinggi majemuk dengan empat buah puncak.

Gunung ini memiliki ketinggian 2780 mdpl dengan posisi geografis berada pada 4 0 – 55 1/2 0 Lintang Selatan dan 96 0 – 20 0 Bujur Timur. Secara rinci dapat dilihat dibawah ini:

Nama                                            :
G. Puet Sague
Nama Lain                              :
Puet Sagoe, Puet Sagu atau Ampat Sagi
Nama Kawah                          :
Lokasi

 

a. Geografi                               :

b. Administrasi                    :

 

 

4°55,5 LU dan 96°20 BT

Kecamatan Meureudeu Selatan, Kabupaten Sigli, Propinsi Nangroe Aceh  Darusallam.

Ketinggian                              :
2780 m dml
Kota Terdekat                       :
Sigli
Tipe  Gunungapi                  :
Strato

Pendahuluan

Cara Pencapaian

Puncak G. Peut Sague umumnya dicapai melalui sisi barat yaitu lewat Kampung Lutueng, Kecamatan Geumpang. Kecamatan Geumpang sendiri dapat dicapai dari Kota Banda Aceh via Sigli dan Tangse,  yang berjarak lk 232 km. Hamidi, S ( 1976) berhasil mencapai puncak G. Peut Sague melalui Geumpang via Kampung Lutong dengan waktu tempuh selama 5 hari.  Farisy ,S dkk dari tim Kanwil Departemen Pertambangan dan Energi, Propinsi Daerah Istimewa Aceh, pada 12 Desember 1993 juga melakukan pendakian lewat jalur yang sama dengan waktu tempuh 5 hari.

Tim terakhir yang melakukan pendakian adalah dari Direktorat Vulkanologi yang dipimpin oleh  Ir. Gede Suantika . (1998), tim ini melakukan perjalanan melalui Kampung  Lutung , lokasi transmigrasi SP4 dan dengan cara merintis jalan tim ini berhasil mencapai puncak selama   hari atau total waktu tempuh pulang pergi selama 5 hari. Jarak Kampung Lutung ke Puncak Lutung (salah satu puncak di G. Peut Sague) adalah sekitar 20 km

SEJARAH LETUSAN

Dari beberapa tulisan terdahulu diantaranya laporan penjelajah tentara kompeni, Kemmerling (1921),  Stehn (1923), Tichlman (1933) dan Neuman van Padang (1951) menulis tentang kegiatan G. Peut Sague, namun dari beberapa tulisan tersebut tidak diketahui sampai sejauh mana tingkat kegiatan gunung tersebut.

1919 25 September, tampak asap putih mengepul dari salah satu puncak sebelah barat G. Peut Sague.
1920
  • Maret, dari kejauhan tampak tiang asap membumbung tinggi disertai sinar api, berasal dari kawah bagian barat dan timur.
  • Mei, Patroli tentara Belanda melihat gumpalan asap yang disertai suara gemuruh dan semburan bara api.
  • Desember, Dari kejauhan tampak pada bagian kawah sebelah barat dan baratlaut adanya guguran lava disertai hembusan asap, kadangkala terdengar suara ledakan.
1979 10 Pebruari, Pemerintah Daerah Tk II melaporkan bahwa G. Peut Sague mengeluarkan api dan suara gemuruh (Kompas Minggu, Maret 1979).
1998 Awal tahun, laporan dari pilot pesawat Garuda yang melalui jalur Banda Aceh – Medan menyatakan bahwa telah terjadi letusan di G. Peut Sague dengan ketinggian asap mencapai ± 3 km, dengan warna asap hitam keabuan.

MITIGASI BENCANA GUNUNGAPI

Sistim Pemantauan

Sistim pemantauan kegiatan vulakanik G. Peut Sague mulai di dipasang pada bulan Mei  1998,  alat yang dipasang terdiri dari alat pencatat getaran (gempa) yang berasal dari kegiatan gunungapi dan alat pencatat pengembangan atau pengerutan (deformasi) tubuh gunungapi. Alat pencatat getaran atau gempa ada dua sistim yaitu  seismograf PS-2 Kinemetrics sistim telemetri dan seismograf VAMAP sitim pancar satelit ARGOS. Sedangkan alat pencatat deformasi ada satu yaitu tiltmeter PH36 sistim pancar satelit ARGOS. Pemasangan ketiga sensor di atas dilakukan di Puncak Tutung dengan posisi geografis berada pada  4°54’ 11”  Lintang Utara  dan     96°17’05”  Bujur Timur . Saat ini kedua sistim pemantaun G. Peut Sague ini tidak berfungsi dikarenakan masalah teknis dan keamanan


2.  GUNUNG Seulawah Agam

Nama : G. Seulawah Agam
Nama Lain : Seulawah Agam, Seulawain Agam, Solawa Agam, Solawaik Agam, Selawadjanten, Goldberg
Nama Kawah : Kawah Heutsz, Tanah Simpago
Lokasi

 

a. Geografi

b.Administrasi

:

 

:

5o25,5′ LU dan 95o36′ BT

 

Kecamatan Seulimeum,  Kabupaten Aceh Besar, Propinsi Nangro Aceh  Darusallam.

Ketinggian : 1726 m dml
Kota Terdekat : Banda Aceh, Sigli
TipeGunungapi : Strato
Lokasi Pos PGA : Desa Lambaro Tunong, Kecamatan Seulimeum 23915 Kabupaten Aceh Besar. (5o22’12″ LU dan 95o37’46,5″ BT)

Pendahuluan

Tinjauan umum dan pencapaian daerah

G. Seulawah Agam dapat dicapai dari Banda Aceh dengan menggunakan kendaran roda empat dengan tujuan kota Kecamatan Seulimeum, dari kota ini jika mau mendaki puncak G. Seulawah Agam dapat melalui kampung Pulo dengan waktu tempuh sekitar 10 jam. Jika tujuannya ke kawah Heutz maka dari Seulimeum harus menuju ke desa LamKabeu, dari desa ini perjalanan ke Kawah Heutz memakan waktu 5 jam. Umumnya jalan menuju ke puncak sangat sukar, sebagian besar harus merintis jalan

SEJARAH LETUSAN

Selama abad ke 19 dan 20, G. Seulawah Agam tidak menunjukan kegiatan letusan yang berarti, beberapa kegiatan vulkanik yang tercatat adalah sebagai berikut :

1600      Pada tahun ini mungkin terjadi letusan parasit (Sapper, 1927)

1839     Tanggal 12 dan 13 Januari terjadi letusan freatik di Kawah Heutsz (Volz,1912)

1975     Tanggal 16 dan 21  Agustus terdengar suara gemuruh dan asap keluar

Dari G. Seulawah Agam.

Sampai saat ini tidak terlihat adanya peningkatan aktivitas atau letusan di G. Seulawah Agam

MITIGASI BENCANA GUNUNGAPI

Sistem Pemantauan

Sejak Pebruari 1996 G. Seulawah Agam sudah diamati secara menerus baik secara visual maupun kegempaan dari pos PGA Seulawah Agam di Desa Lambaro Tunong, Kecamatan Seulimeum, Kabupaten Aceh Besar. Pos ini terletak di lereng selatan G. Seulawah Agam di pinggir jalan raya lintas Banda Aceh � Medan.

Aktivitas kegempaan gunung ini dipantau dengan menggunakan seismograf PS-2 Kinemetrics dengan sistim pancar. Stasiun pemantau ditempatkan di lereng selatan G. Seulawah Agam, sekitar 5 km dari puncak dalam jarak horizontal, secara geografis terletak pada . 5�24�28,5�  Lintang Utara dan 95�38�50,6�  Bujur Timur pada ketinggian 510 m dpl.

Peta Daerah Bahaya G. Seulawah Agam

Berdasarkan catatan sejaraah letusannya, G. Seulawah Agam tidak menunjukan kegiatan yang berarti sejak tahun 1600. Peta Daerah Bahaya G. Seulawah Agam dibuat didasarkan atas keadaan topografi dan morfologi, sifat-sifat letusannya dan sebaran produk letusan masa lampau. Berdasrkan parameter tersebut, Peta Daerah Bahaya G. Seulawah Agam dibuat terdiri dari Daerah Bahaya dan Daerah Waspada.

Daerah Bahaya

Daerah Bahaya meliputi daerah dengan jari-jari lk 5 km dari titik kegiatan, jarak terpendek 3 km ke arah baratlaut, sedangkan jarak terjauh 12,5 km ke arah barat daya, yaitu sepanjang sungai yang berhulu di puncak. Adapun sungai tersebut adalah ; Kali Blang Bla, Kali Uteun, Kali Bleeng dan Kali Kumureue. Luas daerah bahaya lk 12.155 km2.

Daerah Waspada

Daerah ini meliputi daerah dengan jari-jari lk 8 km dari titik kegiatan, dengan jarak terdekat 8 km ke arah baratlaut dan jarak terjauh 18,5 km ke arah baratdaya, yaitu sepanjang sungai yang berhulu di puncak. Daerah ini merupakan perluasan dari daerah bahaya dengan luas seluruhnya 129,20  km2.

BUR NI TELONG, Aceh

Nama                      : Bur Ni Telong (Bur Ni = gunung, Telong = terbakar)
Nama Lain            : Gunung Tutong, Boer Moetelong, G. Telong
Nama Kawah       : A, B, C, D, E
Lokasi
a. Geografi           : 4o38’47″ – 4o88’32″ LU dan 96o44’42″ – 96o55’03″ BT
b. Administrasi : Kabupaten Aceh Tengah, Nangro Aceh Darusallam (Jantop TNI – AD Jakarta, 1977)
Ketinggian           : 2624 m dml 1375 – 1725 m diatas Lembah Tritit ‘Baleq’
Kota Terdekat    : Takengong (lk 17 km selatan G. Bur Ni Telong)
Tipe Gunungapi : Strato

Pendahuluan

Cara Pencapaian Puncak
G. Bur Ni Telong dapat dicapai dengan pesawat udara dari Jakarta - Medan - Banda Aceh, dari Kota Banda Aceh perjalanan dilanjutkan dengan jalan darat ke Kota Takengon dengan waktu tempuh sekitar 10 jam. Pos PGA Bur Ni Telong terletak di Desa Kute Lintang, Kecamatan Bukit , berjarak sekitar 14 km dari Kota Takengon.

Puncak G Bur Ni Telong dapat dicapai dari dua arah yaitu dari lereng tenggara via Kampung Sentral dan dari lereng Baratdaya via Bandar Lampahan. Umumnya orang melakukan penadakian melalui lereng baratdaya, dari Desa Bandar Lampahan dibutuhkan waktu sekitar 3 - 4 jam untuk mencapai puncak G. Bur Ni Telong.

SEJARAH LETUSAN

Berdasarkan data yang ada, G. Bur Ni Telong pernah meningkat kegiatannya atau meletus pada :

1837 Akhir September terjadi beberapa letusan dan gempa bumi yang  menyebabkan banyak kerusakan (Wichmann, 1904).  Neuman van Padang (1951) menganggap sebagai letusan normal  kawah pusat.
1839 Wichmann (1904), letusan terjadi tanggal  12 �13 Januari dengan  abu letusan mencapai P. We
1856 14 April , letusan dari kawah pusat (Neuman van Padang , 1951) material yang dimuntahkannya berupa abu dan batu.
1919 Neuman van Padang (1951) menulis bahwa di bulan Desember terjadi letusan normal dari kawah pusat.
1924 7 Desember, Nampak 5 buah tiang asap tanpa diikuti syatu letusan (Neuman van Padang ,1951)

GEOLOGI

Morfologi

Morfologi G. Bur Ni Telong berkembang bebas ke arah selatan, tenggara dan baratdaya, meskipun ke arah selatan sedikit terhalang oleh adanya bukit-bukit kecil di bagaian lerengnya. Hal ini karena ke arah utara dan timur pertumbuhann tubuh Bur Ni Telong terhalang oleh komplek G. Geurodong, Leui Kucak dan G. Panji.

Pola aliran sungainyanya juga sangat dipengaruhi oleh morfologi yang membentuknya, sebagian dari aliran sungai yang berada di sekitar puncak menunjukan suatu daerah tangkapan berpola aliran radier dan semi dendritik, namun ke arah hilir berubah menjadi pararel.

Daerah puncak Bur Ni Telong mempunyai morfologi berrelief kasar terdiri dari sisa � sisa  kerucut dan kubah lava yang sebagian terhancurkan oleh erupsi pada waktu lampau sehingga bila dilihat dari kejauhan nampak bergerigi. Daerah puncak dan lereng aatas ini mempunyai sudut lereng yang terjal � 35�, dan berdasarkan titik aktivitas saat ini kaeah G. Bur Ni Telong terbuka ke arah baratdaaya. Adapun bekas kawah yang terdapat di sebelah tenggara  saat ini tidak menunjukan aktivitasnya.

Struktur Geologi

Struktur geologi yang berkembang di sekitar G. Bur Ni Telong sangat berhubungan dengan struktur regional yang berkembang di P Sumatera yaitu Sesar Semangko. Sesar Semangko ini mempunyai arah relatif baratlaut � tenggara, struktur geologi yang terdapat di G. Bur Ni Telong dan sekitarnya berupa kaldera, kawah dan sesar.

Sejarah Geologi

G. Bur Ni Telong merupakan gunungapi termuda pada komplek gunungapi tua Pepanji, Geurodong dan Salah Nama. Batuan yang mendasrinya berupa batuan sedimen/meta sedimen  (sedimen tersier). Erupsi gunungapi pertama yang terjadi pada komplek gunungapi ini adalah G. Salah Nama, setelah kegiatan ini berakhir terjadi erupsi di G. Geurodong yang mengakibatkan terbentuknya kaldera dengan bukaan relatif utara-selatan. Selanjutnya lokasi kegiatan gunungapi kembali berpindah ke G. Pepanji yang mengakibatkan terbentuknya kawah di puncak yang terisi air (danau).

Setelah aktivitas G. Pepanji berakhir, kegiatan mulai berlangsung di G. Bur Ni Telong, produk letusan berupa aliran piroklastik, lava dan jatuhan piroklastik. Kegiatan yang terus berlangsung hingga sekarang adalah pembentukan endapan sungai berupa alluvium.

Stratigrafi

Batuan tertua di  daerah ini adalah berupa batuan sedimen,  yang sebagian besar telah terubah menjadi kwarsit, batu tanduk dan meta gamping yang merupakan  batuan dasar (basement) dari batuan vulkanik.

G. Bur Ni Telong  merupakan gunungapi termuda yang terdapat di dalam suatu komplek gunungapi tua yang terdiri dari G. Salah Nama, G. Geureudong dan G. Pepanji. Penyebaran produk letusan G. Bur Ni Telong sebagian besar ke arah selatan, tenggara dan baratdaya, terdiri dari : aliran piroklastik (awan panas), jatuah piroklastik dan lava. Sebagian besar lava tersingkap di daerah puncak dan di lereng barat dan selatan bagian atas dengan komposisi andesitik � dasitik. Pada umumnya lava di bagian lereng bersifat andesitik sedangkan di daerah puncak (kawah) umumnya dasitik (Suhadi dkk, 1994). Aliran piroklastik mempunyai sebaran yang cukup luas di sekitar lereng terutama di bagian baratdaya, adapun jatuhan piroklastik tersingkap di lereng selatan dan baratdaya umumnya menumpang diatas aliran piroklastika.

Petrografi

Dari beberapa conto batuan yang diperiksa secara petrografi memberikan gambaran batuan G. Bur Ni Telong umumnya berkomposisi andesitik, yang bertekstur porfiritik dan vitrofirik. Fenokris umumnya terdiri dari plagioklas, amphibole (hornblenda) dan mineral opak (magnetit). Orto piroksen dan clinopiroksen hadir dalam jumlah sedikit, terdapat mineral amphibole terubah menjadi biotit. Dengan hadirnya mineral biotit ini walaupun dalam jumlah yang relatif kecil, menunjukkan  batuan G. Bur Ni Telong dan sekitarnya meningkat ke asam.

GIOKIMIA

Hasil analisis kimia dari conto lava-lava  G. Bur Ni Telong umumnya mempunyai kisaran silica anatara 54,05 – 59,88 %, tidak dijumpai lava-lava yang kaya akan MgO, kandungan TiO2 umumnya kurang dari 1 wt %, khas untuk lava-lava busur kepulauan. Berdasarkan variasi Si O2 dengan dengan K2O (Le Maitre , 1989), lava-lava G. Bur Ni Telong dan kerucut sekitarnya dengan kandungan silica 54 �57 wt% diklasifikasikan sebagai andesitik basaltic,  sedangkan yang mempunyai kandungan silica 57 �59,88 wt% diklasifikasikan sebagai andesit. Umumnya lava-lava daerah ini mempunyai kadungan K yang tinggi (high K > 2 wt%).

Dengan diagram Irvine & Baragar (1971), batuan batuan  G. Bur Ni Telong diklasifikasikan sebagai Calc-Alkaline.

Unsur No Conto / (%wt)
TL-03 TL-07 TL-05 TL-06 TL-09 TL-12 TL-13 TL-17 TL-19
SiO2 54,05 54,87 58,87 54,91 58,65 59,82 59,47 55,89 57,56
Al2O3 18,97 18,78 18,34 18,83 18,76 18,30 18,02 20,40 19,64
Fe2O3 0,8 0,71 0,62 0,70 0,57 0,60 0,56 0,64 0,64
FeO 7,16 6,40 5,59 6,28 5,09 5,38 4,98 5,79 5,71
CaO 6,56 6,76 6,22 6,57 5,47 5,72 5,70 5,68 5,44
MgO 3,85 2,71 2,13 2,58 2,13 2,58 2,46 3,89 1,94
Na2O 3,74 3,91 3,84 3,71 3,92 3,68 3,6 3,24 2,98
K2O 1,91 2,67 2,43 2,52 2,63 2,5 2,32 2,08 1,69
MnO 0,20 0.20 0,14 0,14 0,15 0,16 0,14 0,15 0,17
TiO2 0,5 0,44 0,47 0,51 0,43 0,37 0,45 0,55 0,41
P2O5 0,36 0,34 0,27 0,38 0,21 0,29 0,22 0,41 0,48
H2O 0,22 0,17 0,11 0,26 0,18 0,12 0,05 0,30 0,47
HD 1,65 1,95 0,92 0,53 1,75 0,40 1,91 0,96 2,81

Tabel 1. Data Hasil Analisis Kimia G. Bur Ni Telong dan sekitarnya.

MITIGASI BENCANA GUNUNGAPI

Sistim Pemantauan

Instalasi sistim pemantauan kegempaan G. Bur Ni Telong dimulai pada tanggal 24 Juli 1991, seismograf yang dipasang adalah tipe PS-2 buatan Kinemetrics, Amerika. Seismometer di tempatkan di lereng selatan � tenggara G. Bur Ni Telong, data dari lapangan dipancarkan ke pos PGA G. Bur Ni Telong dengan sistim telemetri. Seperti pos PGA lainnya, kondisi kegiatan gunungapi ini dilaporkan ke Direktorat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi di Bandung melalui radio SSB.

Kawasan Rawan Bencana G. Bur Ni Telong

Pada umumnya penafsiran bahaya letusan gunungapi berdasarkan pada catatan kegiatan yang tercatat dalam waktu sejarah yang dapat dijumpai dalam literature atau laporan para peneliti terdahulu. Bila data dalam waktu sejarah maupun pra sejarah memadai, frekwensi letusan masa lampau dapat ditentukan, maka frekwensi dan intensitas letusan yang akan dating dan kemungkinan kawasan yang akan terlanda produk letusan gunung api tersebut dapat diperkirakan.

Meskipun kegiatan G. Bur Ni Telong saat ini hanya menempakan fumarola yang berasap tipis dan lemah , namun bukan berarti bahwa gunung tersebut tidaak berbahaya dan tidak akan meletus kembali. Untuk mengantisipasi kemungkinan-kemungkinan  bahaya yang ditimbulkannya perlu dipersiapkan peta kawasan rawan bencananya.

Kawasan rawan bencana G. Bur Ni Telong dapat dibagi dalam dua tingkatan yaitu :

1.      Kawasan Rawan Bencana II

2.      Kawasan Rawan Bencana I

Kawasan Rawan Bencana II

Kawasan rawan bencana II adalah kawasa yang berpotensi terlanda awan panas, aliran lava, lontaran atau guguran batu (pijar), hujan abu lebat, hujan Lumpur (panas), aliran lahar dan gas beracun. Kawasn rawan bencana II ini dibedakan menjadi dua yaitu,

  • Kawasan rawan bencana terhadap aliran masa berupa awan panas, aliran lava dan aliran lahar
  • Kawasan rawan bencana terhadap material lontaran dan jatuhan seperti lontaran batu (pijar), hujan abu lebat dan hujan lumpur (panas).

G. Bur Ni Telong diperkirakan tidak akan menghasilkan guguran batu (pijar), hujan Lumpur (panas) maupun gas beracun, karena ketiga jenis produk gunungapi ini sering tergantung pada karakteristik gunungapi tersebut, yang mana berdasarkan sejarah letusannya ketiga jenis produk tersebut tidak tercatat.

Kawasan Rawan Bencana I

Kawasan rawan bencana I adalah kawasan yang berpotensi terlanda lahar/banjir dan tidak menutup kemungkinan dapat terkena perluasan awan panas dan aliran lava. Kawasan ini dibedakan menjadi dua, yaitu :

  1. Kawasan rawan bencana terhadap aliran ma berupa lahar/banjir dan kemungkinan perluasan awan panas dan aliran lava. Kawasan ini terletak di dekat lembah atau bagian hilir sungai yang berhulu di daerah puncak.
  2. Kawasan rawan bencana terhadap jatuhan berupa hujan abu tanpa memperhatikan arah tiupan angin dan kemungkinan dapat terkene lontaran abtu (pijar).
About these ads

4 Responses

  1. asslm, nama saya yudi. mahasiswa Fak-kedokteran Unsyiah asal takengon, saya tertarik akan tuisan tentang bur ni telong. untuk itu, saya meminta kepada admin untuk mengirimkan jurnal/artikel resmi terkait gunung bur ni telong. ( kalau boleh)

    ini email saya
    wahyudi13x@yahoo.com

  2. hahahahaha

  3. Assalamualaikum,

    Salam kenal dari saya, Sonny Iskandar.
    Saya tertarik dengan data-data yang dihadirkan, terutama dengan Seulawah. Saya ingin tahu sumber tulisan abang ini. Dikarenakan saya punya temuan menarik tentang seulawah agam.
    Kalo bole saling berbagi, saya nantikan duduk2 bincang di cafe yang ada di Banda Aceh. Dengan mengontak saya di 0813 60 6989 75. Saya nantikan kabarnya.

    Salam,

    -S-

  4. saya mempertanyakan kondisi gunung berapi di pulau weh ( SABANG )

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: