Peribahasa Gayo


Suku Gayo atau urang (orang) Gayo adalah penduduk asli yang mendiami daerah Takengon, Linge, Bebesan, Pegasing, Bintang dll (Kabupaten Aceh Tengah), Redelong, Pondok Baru, Wih Pesam, Timang Gajah dll (Kabupaten Bener Meriah), Blangkejeren, Rikit, Terangun, Kuta Panjang dll (Kabupaten Gayo Lues), dan Serbejadi (Kabupaten Aceh Timur). Generasi lebih tua sering menyebut suku ini dengan sebutan Gayo Lut, Gayo Lues dan Gayo Serbejadi.

Gayo Lut atau Gayo Laut mendiami hampir seluruh daerah yang berada dalam Kabupaten Aceh Tengah dan Kabupaten Bener Meriah. Urang Gayo (Orang Gayo) saat ini banyak yang merantau ke luar daerah asalnya, baik itu dalam wilayah Indonesia maupun diluar negeri.

Berikut ini ada beberapa pribahasa gayo yang sering dipakai dalam kehidupan sehari-hari masyarakat gayo

1.      INGET -INGET TENGAH BELEM KONA, HEMAT JIMET TENGAH ARA.

Ingat – ingat sebelum kena, hemat cermat selagi ada.

Berhati-hati sebelum sesuatu akan terjadi, dan berhemat selagi waktu ada. Tindakan dan perbuatan yang hendak dilakukan harus di pikir lebih dahulu baik-baik tentang untung ruginya, dan begitu pula pada waktu seseorang memiliki harta benda supaya tidak memboroskannya, tetapi mengatumya sedemikian rupa agar harta itu dapat dipergunakan untuk menyambung hidup.

 2.      BERET N1 MALU ATAN BATANG RUANG, BERET N1 REJE ATAN ASTANA.

Mulia wanita di atas rumah, mulia raja di atas istana.

 Kehormatan dan wibawa seorang wanita berada dalam rumah tangga, sedangkan kehormatan dan wibawa Raja berada dalam istana. Wanita itu dijunjung tinggi dan dimuliakan di rumah. Dalam arti lain bahwa wanita itu adalah mulia jika ia tidak suka
bertandang. Karena bertandang ke rumah orang lain dapat mempergunjingkan seseorang.
Demikian pula dengan seorang Raja, tempatnya adalah istana, bukan tempat-tempat yang sering dikunjungi umum karena akan mengurangi wibawa dan menjatuhkan martabat Raja.

3.      KONA Ni AKANG ARI BEKASE, KONA Ni KUKUR ARI LINGE.

Tertangkapnya kijang dari bekasnya, tertangkapnya balam dari bunyinya.

Sesuatu perbuatan seseorang dapat diketahui dari jejak jejaknya. Umpama, seorang pencuri memasuki sebuah rumah. la dapat ditangkap kalau ditemukan bekas -bekas sidik jari, misalnya atau tanda-tanda lain berupa benda yang sering dipakai sebagai ciri si pencuri itu. Begitu pula seseorang itu dapat ditangkap dilihat dari tingkah laku dan gerak-gerik seseorang yang mencurigakan.

4.      ALIHE KIN LANGKAHE, DODOHE KIN REBAHE.

Lenggangnya menjadikan langkahnya, condongnya menjadikan rebahnya.

Sesuatu perbuatan yang disesuaikan menurut situasi dan kondisi. Hampir sama dengan peribahasa Indonesia: Bagaimana gendangnya begitu pula tarinya. Mengikuti kehendak seseorang tanpa menyanggahnya untuk tidak terjadi sesuatu yang bertentangan.
Dalam bahasa sekarang bisa disebut toleransi. Dalam arti lain dapat juga dikatakan pula, mengikuti arus keadaan.

5.      GELEP GERE TENANTIN TERANG, UREN GERE TENANTIN SIDANG.

Gelap tidak perlu ditunggu terang, hujan tidak perlu ditunggu berhenti.

Menyelesaikan suatu masalah gawat, diperlukan tindakan secepat-cepatnya tanpa menunda-nunda waktu. Sebagai contoh: Seorang anak gadis dibawa lari seorang pemuda. Tentu saja kejadian ini menyangkut nama baik keluarga. Keluarga menjadi tercela karena peristiwa ini. Hal ini tidak dapat dibiarkan, sebaliknya segera diambil tindakan penyelesaian sesuai dengan hukum adat yang berlaku pada masyarakat Gayo.

6.      UREN IPAYUNGI, GELEP ISULUHI.

Jika Hujan diberi payung, jika Gelap diberi lampu (Cahaya)

Memberikan perlindungan dan tuntunan kepada seseorang. Misalnya, terhadap anak yatim yang tinggal dalam sebuah keluarga. la jangan dihardik, tetapi dilindungi dan tuntunlah anak itu ke jalan yang benar, apalagi kalau anak yatim itu masih dalam garis keturunan.

7.      I KAMPUNG BEPANTIK GENUKU, I BELANG BEPEDANG PERISE.

Di kampung bertancap lutut, di lapangan bersenjatakan pedang perisai.

Suatu tantangan untuk mempertahankan diri, bahkan jika perlu perlawanan bersenjata di mana saja. Tantangan ini biasanya karena merasa dihina. la mau mengorbankan
jiwanya demi harga diri yang terinjak dan dianggap temoda. Demi menegakkan nama baiknya ia bersedia melawan dengan senjata di mana pun dan kapan pun jika dikehendaki lawan.

8.      KORO IAMAT TALIE, JEMA IAMAT CERAKE.

Kerbau dipegang talinya, orang dipegang ucapannya.

Menilai jujur tidaknya seseorang dilihat dari ucapannya yang dapat dijadikan pegangan. Misalnya, seseorang meminjam uang dengan perjanjian akan memberikan imbalan kepada peminjam sekian persen dan akan dikembalikan pada waktu yang telah disepakati bersama. Waktu pengembaliannya temyata meleset dan imbalan yang dijanjikan juga tidak dipenuhi. Yang memberikan pinjaman tetap menuntut karena ikrar janji sebelumnya telah disepakati, maka bagi yang memberikan pinjaman, ucapan si peminjam dijadikan pegangan.

 

By:Ariga

One Response

  1. Yah Ikeldi boh kekata asli melengkan Gayo, ike ara tamahe tolong bagi ku tirtagayo @yahoo.com
    Brijin

    Aman Muger

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: