Anggota DPR-RI 2009-2014 dari Aceh


PEMILU Legislatif 2009 menghasilkan 17 wakil Aceh di Senayan, terdiri atas 14 anggota DPR-RI dan empat anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD). Wakil Aceh yang menjadi bagian dari 560 anggota DPR-RI dan 132 anggota DPD yang akan dilantik pada 1 Oktober 2009 (Serambi, 14/09/2009). Tentu, keberhasilan mereka tidak terlepas dari kepercayaan rakyat yang memberi amanah untuk diemban. Sebagai wakil rakyat, supaya tidak lupa untuk memperjuangkan nasib dan pembangunan Aceh, dalam semua sektor kehidupan.

Artinya, sebagai representasi dari rakyat Aceh, tidak mengingkari akan janjinya. Sehingga diharapkan dapat mengawal dan memperjuangkan aspirasi sekitar empat juta lebih rakyat Aceh hingga tahun 2014 nanti. Anggota DPR-RI 2009-2014 utusan dari Aceh

Satu hal yang penting menjadi ingatan anggota DPR-RI asal pemilihan Aceh adalah mampu menyembuhkan penyakit “lambung” mayoritas rakyat Aceh–penyakit akibat terlalu banyak mengonsumsi janji kosong beberapa politisi di masa lalu. Rakyat pernah dijanjikan akan bebas dari kemiskinan, tapi kenyataannya sebagian besar rakyat Aceh, terutama di pedalaman, sampai kini masih kesulitan memenuhi sebambu beras sehari.

Rakyat Aceh menyematkan berbagai harapan untuk wakilnya di Senayan, terutama dalam mengawal dan memperjuangkan berbagai kebijakan pusat terhadap Aceh–selama ini yang dinilai masih banyak yang ambigu. Karenanya, keberadaan wakil Aceh dapat mewujudkan agar menjadi konkrit. Wakil Aceh agaknya perlu belajar dari masa silam, berjalan agar bisa arif memahami realitas rakyat, terutamap pascakonflik dan becana. Rasanya, cukup dengan mengapresiasi beberapa slide dinamika hidup yang buruk selama sebagai tamsilan agar Aceh tak lagi terseret pada persoalan serupa.

Sebagai rakyat, hanya berpesan, bahwa keberadaan anggota legislatif (tingkat pusat, provinsi dan kabupaten/kota) itu telah mendapat restu rakyat. Maka amanah rakyat, hendaknya tidaklah berayun antara harapan dan kepentingan semata, melainkan menjadi rangkaian pengabdian kepada Tuhan. Sebagai representasi rakyat–suka atau tidak suka–haruslah berpihak kepada perbaikan kondisi yang ada dimana rakyat dapat menikmatinya.

Kita menyematkan harapan, semua kebijakan dan karya yang dihasilkan hendaknya memihak rakyat. Bukan hanya menjadi “menara gading” yang sekedar dibanggakan namun tidak mampu memberi kemaslahatan rakyat. Semoga ini tidak pantas lagi terjadi. Sebagai duta Aceh di tingkat pusat, anggota DPR-RI 2009 ibarat cerocok kecil menjadi tempat menyematkan sauh harapan dan cita-cita Aceh di tataran nasional. Maka kerja keras mestilah jadi sandaran dalam mewujudkannya. Meskipun disadari, bahwa memang itu bukan satu-satunya cara untuk mengubah nasib rakyat ini. Terma gambaran politisi seperti dalam pantun Aceh; oh na kurusi ka gabhuek keu droe/ tan le geupakoe nyang brie suara, agaknya tidak akan berulang lagi di masa mendatang. Wakil rakyat diharap mampu menebar manfaat dan bermartabat di hadapan rakyat jelata  (Sumber:  Harian Serambi Indonesia,  15 September 2009)

One Response

  1. masuk ke lorong waktu.Buka Mata nya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: