Menyikapi Bancana di Aceh


Menyikapi Bencana Alam di Aceh

Oleh: Zulfikar Arma

Aceh memiliki tingkat kerawan sangat tinggi, dimana Aceh tidak hanya berpotensi terhadap gempa dan tsunami. Akibat rusaknya lingkungan, Aceh pun rentan terhadap banjir dan longsor. 30 tahun konflik bersenjata menunjukan Aceh pun rentan terhadap bencana konflik. Tidak cukup kah kondisi ini menjadikan kita semua harus lebih siap menghadapi ancaman bencana? atau kita hanya cukup pasrah dan terus menyakini; bencana adalah takdir Tuhan yang harus diterima?

UNTUNG tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Sepertinya peribahasa ini paling pas untuk melukiskan silih bergantinya penderitaan yang menimpa masyarakat Aceh pada khususnya dan masyarakat Indonesia pada umumnya. Bagaimana tidak, siapakah yang tidak kenal dengan Negeri Serambi Makkah, sebuah propinsi yang berada di ujung barat Indonesia dengan hamparan berjuta kekayaan alam, sejarah dan budaya.

Sejak terjadinya gempa bumi yang disusul dengan gelombang tsunami yang menimpa sebagian bumi Nangroe AcehS4020016 Darussalam pada akhir tahun 2004. Belum normalnya prekonomian dan pembangunan akibat Tsunami Aceh diterpa kembali Bencana Banjir besar yang melanda 7 kabupaten pada akhir tahun 2006 dan pada penghujung tahun ini terjadi lagi bencana banjir yang melanda pantai Barat Selatan Aceh dan sebahagian Pantai Utara Timur Aceh, dimana n rentetan peristiwa yang datang bersambung-sambung, seperti cerita sinetron di televisi yang tidak tahu kapan akan berakhir.

Banyaknya peristiwa bencana yang datang silih berganti menyebabkan masyarakat menjadi terbiasa dalam menghadapinya seakan sebuah peristiwa rutin. Kalaupun terjadi kegoncangan di tengah-tengah masyarakat akibat peristiwa tersebut, dalam waktu singkat akan hilang dengan sendirinya, dikalahkan oleh berita-berita politik, pembagunan dan penanaman modal atau berita penahanan beberapa pejabat yang dituduh melakukan korupsi. Akibatnya, pertanggungjawaban yang diharapkan masyarakat dari pihak-pihak yang berwenang akibat peristiwa tersebut seakan terabaikan.

S4020022Ketika gelombang tsunami meluluhlantakkan serambi mekkah, mungkin kita semua sependapat bahwa alam sebagai penyebab terjadinya peristiwa tersebut, namun tidak semua bencana yang terjadi di Aceh penyebabnya alam, seperti pada saat banjir bandang pada akhir tahun 2006 dimana kita ketahui bahwa dengan salah urusnya hutan aceh merupakan salah satu penyebabnya sehingga masyarakat harus teurimong menghadapi fenomena alam ini. Kita semua pasti sepakat bahwa human error atau management error lah penyebabnya. Namun, apakah mereka siap untuk mengakui bahwa itu semua kesalahan manusia atau manajemen.

Oleh karena itu, munculnya serangkaian bencana ini kemudian oleh masyarakat tidak lagi dipahami dari kacamata ilmiah, tetapi, telah beralih menjadi pertanyaan teologis, seperti apakah Tuhan sedang menghukum Negeri ini karena perilaku rakyatnya yang semakin menjauh dari-Nya sehingga azab datang sebagai bentuk peringatan? Tidak sedikit pula yang mengait-ngaitkan dengan pertanyaan-pertanyaan yang berbau mistis, seperti mulai mengaitkan ketidakharmonisan makrokosmos dan mikrokosmos sebagai penyebab bencana alam.

Adapun jawaban terhadap masalah di atas sah-sah saja orang berpendapat, toh tidak ada yang melarang. Namun, masalahnya setelah kita menemukan jawaban tersebut apakah bencana dipastikan tidak akan terjadi lagi, bukankah justru akan muncul “bencana” baru di mana akan muncul konflik karena orang akan saling menghujat dan menyalahkan seakan dirinyalah yang paling benar.

Kerugian yang diderita oleh pemerintah dan masyarakat sebagai akibat dari banyaknya bencana tentu tidak hanya sekadar kerugian jiwa atau harta benda, tetapi yang lebih mengkhawatirkan adalah mulai munculnya sikap ketidakpercayaan dari masyarakat terhadap pemerintah yang berkuasa, mengingat lambatnya pemerintah dalam mengantisipasi dan menanggulangi bencana ini. Bahkan ketika terjadi gempa bumi dan tsunami di Provinsi Nangroe Aceh Darussalam, yang menewaskan ratusan ribu jiwa. Banyak pihak menimpakan kesalahan pada pihak pemerintah yang terlambat dalam melakukan deteksi dini sebagai akibat dari tidak berjalannya Early Warning System, akibatnya masyarakat NAD tidak melakukan persiapan-persiapan semestinya ketika bencana benar-benar terjadi.

Rendahnya sense of crisis dari pemerintah terhadap penanganan penderitaan yang menimpa warganya, terlihat pula dari sikap pemerintah yang terkesan tidak peduli akan nasib yang menimpa warganya. Oleh karena itu, jangan heran apabila masyarakat yang selama ini menaruh harapan besar pada pemerintah yang berkuasa untuk segera keluar dari krisis multidimensi, sebagai dampak dari krisis moneter, sedikit demi sedikit mulai menunjukkan sikap keraguan dan ketidakpercayaan kepada aparat pemerintah.

Munculnya pandangan skeptis demikian tentunya beranjak dari ketidakberdayaan masyarakat dalam menghadapi berbagai bencana yang harus ditanggungnya. Pemerintah yang selama ini diharapkan menjadi pelindung sekaligus pemberi kesejahteraan bagi masyarakatnya ternyata sama tidak berdayanya dalam menghadapi permasalahan ini.

Faktor penyebab

Terlepas dari faktor mistis yang banyak digulirkan oleh warga masyarakat dalam memandang kejadian-kejadian tragis di Aceh, maka faktor yang layak untuk dijadikan sebagai penyebab utama terjadinya berbagai bencana adalah faktor manusia itu sendiri.S4020067

Banyaknya peristiwa banjir, longsor, dan rusaknya fungsi ekologis disebabkan oleh eksploitasi berlebihan atas alam yang dilakukan oleh manusia baik yang diizinkan oleh negara maupun yang dilakukan secara ilegal.

Ironisnya, terhadap masalah ini pemerintah terkesan hanya memberikan respons seadanya tanpa berupaya melakukan berbagai perubahan yang sifatnya mendasar atas paradigma, pendekatan, peraturan perundangan, dan kelembagaan pengelolaan aset-aset alam dan lingkungan hidup. Sebagai contoh, ketika masalah peralihan fungsi hutan yang pada awalnya dijadikan sebagai daerah resapan air menjadi wilayah hunian dianggap sebagai penyebab terjadinya banjir dan tanah longsor di beberapa daerah.

Pada saat bersamaan, pemerintah begitu gencarnya memberikan izin pembangunan perumahan di wilayah tersebut sekadar memenuhi pundi-pundi pendapatan asli daerah atau ketika penyebab terjadinya tanah longsor dan banjir akibat adanya praktik illegal logging dan perambahan hutan, justru di saat yang sama pengadilan menjatuhkan hukuman yang ringan bahkan dalam beberapa kasus membebaskan para pembalak dari jeratan hukum.

Adanya faktor manusia sebagai penyebab terjadinya berbagai bencana, semakin memperoleh pembenaran ketika muncul laporan dari Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) Working Group I yang dikeluarkan pada 2 Pebruari 2007 di Paris, yang menyebutkan “Munculnya berbagai bencana diberbagai belahan dunia disebabkan adanya perubahan iklim tersebut timbul sebagai akibat dari beragam aktivitas manusia”.

Respons

Sudah saatnya kita segera melakukan berbagai pembenahan, tidak hanya dari aspek teknis atau manajemen semata, tetapi lebih dari itu, aspek moral. Masyarakat harus segera mengubah perilaku yang selama ini dijalaninya. Karena bagaimanapun juga munculnya berbagai peristiwa itu terjadi sebagai akibat dari keterlibatan banyak pihak.

IMG_0701Berbagai bencana yang menimpa saudara-saudara kita hendaknya dijadikan sarana untuk mewujudnyatakan komitmen kita untuk berbagi dan membantu sesama. Tindakan-tindakan nyata sangatlah dibutuhkan apabila kita ingin disebut sebagai manusia bermoral. Hal ini menunjukkan bahwa kita berkewajiban untuk menjunjung tindakan-tindakan suci tersebut yang secara esensial berguna untuk diri kita sendiri dan juga orang lain. Disinilah nilai-nilai moral mendapatkan ruang kehadirannya.

Bencana yang terjadi selama ini seolah hendak mengukur seberapa besar simpati antarsesama dapat diwujudkan. Mungkin selama ini kita mampu berbicara dengan fasih mengenai masalah-masalah kemanusiaan dan kepedulian terhadap sesama, tetapi sekaranglah saatnya apabila kata-kata suci tersebut diwujudkan dalam sikap tolong-menolong antarsesama. Rasa canggung untuk membantu para korban boleh jadi karena kerdilnya kepedulian dan keimanan yang dimilikinya. Alih-alih membantu para korban, ia malah asyik memanfaatkan peristiwa memilukan itu sebagai momentum untuk mencari keuntungan sendiri.

Para korban sedang menjerit mengharapkan pertolongan, sementara ada orang-orang yang kehilangan komitmen kemanusiaannya tanpa merasa bersalah dan berdosa larut dalam suasana hati yang tamak/serakah. Sekaranglah waktunya untuk menumbuh kembangkan rasa solidaritas antar sesama. Biarlah bencana-bencana yang selama ini terjadi dipakai sebagai sarana untuk semakin menguatkan rasa persatuan dan kesatuan di antara sesama dan marilah kita selalu berusaha seraya berdoa untuk memohon pertolongan-Nya supaya kita terhindar dari berbagai bencana untuk menuju daerah yang makmur, semoga.***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: