Analisa Pemanfaatan Krueng Peusangan


Analisa Pemanfaatan Krueng Peusangan

Keberadaan sungai Kr. Peusangan di wilayah Kabupaten Aceh Utara dan Kabupaten Aceh Tengah, merupakan sumber daya alam yang sangat potensial dan bermanfaat bagi pengembangan pembangunan di kedua wilayah, khususnya untuk wilayah Kabupaten Aceh Utara, sungai tersebut dimanfaatkan untuk banyak keperluan/kegiatan antara lain: untuk irigasi sumber air baku industri, sumber air minum/bersih dan pertambangan rakyat/galian C (pasir dan kerikil). Di masa mendatang sungai tersebut akan dimanfaatkan juga sebagai sarana Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA), yaitu di hulu sungai atau tepatnya pada outlet Danau Laut Tawar di Kabupaten Aceh Tengah.

Sungai Kr. Peusangan ini juga mempunyai Daerah Aliran Sungai (DAS) yang cukup luas dalam dua wilayah kabupaten yaitu sebagian besar DAS bagian hulu terletak di Daerah Kabupaten Aceh Tengah dan sebagian DAS hulu serta DAS hilir terletak di Daerah Kabupaen Aceh Utara. Sungai ini mempunyai debit air agak besar dan stabil dari pada sungai-sungai yang lain yang letaknya berdekatan dengan Zona lndustri Lhokseumawe. Pada awalnya sungai ini mempunyai kondisi DAS yang cukup baik, dimana di wilayah DAS hulu terdapat hutan yang cukup lebat dan potensial sehingga sungai tersebut selalu mempunyai debit air yang lebih besar walaupun pada musim kemarau, sehingga dapat dimanfaatkan oleh petani sebagai sarana irigasi untuk mengairi sawah (irigasi desa).

Sejak dibukanya Zona Industri Lhokseumawe, pembangunan di wilayah Kabupaten Aceh Utara maju begitu pesat, sehingga masyarakat dan pelaku pembangunan memanfaatkan segala sumberdaya yang ada untuk berpacu mengikuti perkembangan pembangunan yang terjadi. Salah satu perkembangan yang menonjol adalah perkembangan ekonomi masyarakat, dimana semua pelaku bisnis berusaha semaksimal mungkin untuk meningkatkan usahanya yaitu dengan memanfaatkan segala sumberdaya alam yang ada, antara lain sumber daya hutan dan sumber daya air.

Hutan menjadi sangat penting bagi peningkatan pendapatan masyarakat maupun bagi pengusaha kayu karena dari hutan banyak menghasilkan bahan kayu sabagai sumber bahan komoditas ekspor maupun bahan pembangunan dalam negeri sehingga masyarakat dan pengusaha kayu berlomba-lomba menebang hutan untuk mengambil hasil kayunya. Dan selain mengambil hasil hutan juga tidak kurang mereka menebang hutan dengan alasan membuka perkebunan (kelapa sawit, coklat) ataupun membuka pemukiman barn (perumnas, RSS dan Pabrik). Akibat dari itu semua keberadaan hutan di daerah DAS Kr.Persangan semakin hari semakin berkurang, sehingga melapaui syarat minimum luas hutan di suatu wilayah (30 %). Disamping itu sejak pabrik Kertas (PT. KKA) beroperasi penebangan kayu semakin meningkat terutama kayu finus sebagai bahan baku industri kertas.

Berdasarkan data yang diperoleh dari Kantor Dinas Kehutanan Propinsi Daerah Istimewa Aceh, menunjukkan bahwa dari tahun 1982 sampai dengan tahun 1995 telah terjadi pengurangan hutan secara drastis sebesar 42.755 ha (33,85 %) atau rata-rata 3.289 ha pertahun. Pengurangan luas areal hutan tersebut telah melebihi harus minimum luas hutan yang diizinkan yaitu 30 % dari luas DAS, sehingga ini dapat memberi dampak negatif bagi kehidupan dan persediaan air sungai Kr.Peusangan tersebut terutama untuk keperluan pertanian, industri dan air bersih/minum.

Air sungai Kr.Peusangan pada mulanya dimanfaatkan oleh petani untuk mengairi sawahnya (irigasi desa), sejak tahun 1980 di alur sungai tersebut dibangun irigasi teknis yaitu irigasi Pante Lhong untuk mengairi sawah seluas 8000 ha lebih. Air sungai ini juga mulai dimanfaatkan oleh proyek Fital (PT.Arun NGL, PT. PIM, PT.AAF, PT. Kertas Kraft Aceh dan PT.Aeromatik) dalam lingkungan Zona Industri Lhokseumawe sebagai air baku dan air bersih/minum. Pemanfaatan air baku untuk industri pada umumnya dimanfaatkan untuk air permbersih/penggelontor kotoran, air pemadam kebakaran, air untuk pendingin dan juga digunakan sebagai air baku khususnya untuk pabrik pupuk (PT. PIM, PT. AAF), sedangkan yang dimanfaatkan untuk air bersih/minum digunakan untuk kantor/pabrik, komplek perumahan, rumah penduduk di wilayah Kota Administratif Lhokseumawe dan sekitarnya.

Untuk mengetahui lebih lanjut kondisi sungai Kr. Peusangan telah dilakukan penelitian tentang: (a) Pengaruh potensi hutan terhadap debit air sungai, (b) Pengaruh kondisi debit air sungai terhadap pemanfaatannya dan (c) Pengaruh pemanfaatan air sungai terhadap peningkatan pendapatan daerah.

Dari data time series yang dikumpulkan dilapangan yang kemudian dianalisa dengan mengunakan Model Regresi Berganda dan Model Logaridma diolah/diproses dengan program shazarn, diperoleh hasil sebagai berikut:

  1. Telah terjadi penurunan luas areal hutan/potensi hutan seeara drastis dari tahun 1982 sampai dengan tahun 1995 sebesar 42.755 ha atau 3.289 ha setiap tahunnya. Pengurangan luas areal hutan tersebut berpengaruh terhadap keberadaan debit air sungai yaitu mempunyai debit yang besar (banjir) di musim hujan dan mempunyai debit air yang kecil di musim kemarau. Ini disebabkan kerena hutan merupakan sarana penghambat air hujan mengalir ke sungai sehingga memberi kesempatan bagi air hujan yang jatuh di atas permukaan tanah meresap ke dalam tanah menjadi aliran air tanah dan menambah persediaan air tanah yang nantinya akan menjadi sumber air sungai di musim kemarau akan datang, dengan kata lain potensi hutan berpengaruh nyata terhadap debit air sungai terutama di musim kemarau, dimana jika potensi hutan meningkat 10 %, debir air sungai pada musim kemarau juga meningkat 17,5 %, dan sebaliknya. Untuk menghambat kerusakan hutan/pengurangan luas hutan di wilayah DAS Kr.Peusangan, perlu mendapat perhatian dari pihak Pemerintah Daerah Tingkat I/II dengan instansi terkait, agar meninjau kembali tentang izin Hak Pengusaha Hutan (HPH) maupun dalam memberi/mengeluarkan HPH baru, sehingga pengurangan potensi hutan tidak berlanjut. Disamping itu perlu adanya usaha pencegahan/pengawasan kerusakan hutan oleh masyarakat baik waktu membuka lahan pertanian baru maupun mengmbil hasil hutan, sehingga tidak menimbulkan kebakaran hutan atau kerusakan lingkungan lainnya. Disamping itu semua, tidak kalah penting agar Pemerintah Daerah Tingkat I/II perlu meningkatkan kegiatan konservasi tanah dan air, supaya kerusakan hutan/pengurangan potensi hutan dapat diganti untuk masa-masa mendatang, sehingga kekuatiran akan kekurangan sumber air tidak akan terjadi.
  2. Pemanfaatan air untuk irigasi air baku untuk industri dan air bersih/minum secara bersama-sama mempengaruhi debit air sungai/daya dukung wilayah, tetapi secara individu pemanfaatan air untuk irigasi yang berpengaruh nyata terhadap debit air sungai ini dapat dilihat dari hasil penelitian menunjukkan variabel luas tanam berpengaruh nyata terhadap variabel debit air sungai dengan tingkat kepercayaan 99,5%, sedangkan untuk variabel jumlah industri dan pemakai air bersih/minum tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan terhadap keberadaan debit air sungai ini dapat terlihat dengan t-test < t-tabel. Ketidak signifikan pamanfaatan air untuk industri dan air bersih/minum, disebabkan karena kenyataannya menurut data time series yang ada di lapangan menunjukkan bahwa walaupun debit air sungai terus menurun akibat pengurangan potensi hutan, namun jumlah industri dan pemakai air minum yang memanfaatkan sumber air tersebut terus meningkat sesuai dengan perkembangan industri dan penduduk. Keberadaan debit air sungai sampai saat ini (1997), ternyata masih mampu memenuhi kebutuhan air tersebut, sehingga penurunan debit air belum berpengaruh terhadap pemanfaatan air di atas.
  3. Sungai merupakan sumberdaya alam yang banyak memberikan manfaat bagi manusia seperti sebagai prasarana transportasi air, pemanfaatan airnya, dan pertambangan galian C. Khusunya untuk pemanfaatan air sungai Kr. Peusangan untuk irigasi industri dan air bersih, tentu telah dapat memberikan peran yang besar terhadap perkembangan sosial ekonomi seperti meningkatnya Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB), Retribusi Daerah dari pemakaian air sungai dan Laba Perusahaan Daerah atas penjualan air bersih/minum. Dengan meningkatnya penerimaan dari ketiga sumber tersebut di atas, dengan sendirinya ikut memberikan kontribusi yang besar terhadap peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD), ini menunjukkan bahwa pemanfaatan air sungai Kr.Peusangan berpengaruh nyata terhadap peningkatan pendapatan daerah. Dari basil penelitian menunjukkan bahwa secara bersama-sama variabel PDRB, pendapatan atas air baku untuk industri (Retribusi Daerah) dan pendapatan atas air bersih/minum (Laba Perusahaa Daerah) memberikan pengaruh yang nyata atas meningkatnya Pendapatan Asli Daerah. Tetapi secara individual peningkatan PDRB dan pemanfaatan air untuk industri memberi pengaruh positif dan nyata bagi peningkatan PAD, sedangkan pemanfaatan air untuk air minum/bersih (Laba Perusahaan Daerah) tidak berpengaruh nyata bagi peningkatan PAD, ini disebabkan keuntungan/laba dari pemanfaatan air bersih/minum masih sangat kecil dan tidak menunjukan peningkatan yang stabil, sedangkan PAD terus meningkat setiap tahunnya. Dalam hal ini agar penerimaan dari pemanfaatan air minum/bersih (laba perusahaan daerah) dapat memberikan pengaruh yang nyata terhadap PAD, maka managemen pengelolaan dan tehnologi Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) harus ditingkatkan.

Mudah mudahan dengan adanya analisa diatas nantinya dapat membantu pemerintah daerah untuk lebih Arif dan bijaksana dalam mengambil keputusan dan kebijakan yang ada, sehingga nantinya dapat bermanfaat bagi masyarakat yang ada, Amin…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: