Dampak Perubahan Iklim di Aceh


Dampak Perubahan Iklim

Gagal Panen Meluas di Aceh

By;  Serambinews, 26th January 2010

BANDA ACEH – Pemanasan global (global warming) mulai berdampak serius di Aceh, bahkan telah mempengaruhi produksi pangan. Data terbaru, pada 2010 gagal panen meluas hampir dua kali lipat dibanding 2009. Bila tidak ada upaya dan langkah serius, kegagalan panen semakin meluas dan berisiko rawan pangan.

Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Holtikultura Aceh, Asrin MP mengungkapkan, data sementara sampai September 2010, total luasan gagal panen (puso) di Aceh mencapai 7.206 hektare. Rinciannya, 6.237 hektare padi, 4 hektare jagung, dan 965 hektare kedelai.

“Angka luasan gagal panen tersebut kita perkirakan bakal naik lagi karena data terakhir belum masuk. Gagal panen banyak terjadi di Desember 2010, jadi perkiraan kita bisa mencapai 10.000 hektare,” ungkap Asrin kepada Serambi, Selasa (25/1).

Angka terbaru itu, kata Asrin hampir dua kali lipat dibanding 2009 yang hanya seluas 5.746 hektare. Menurut Asrin, perubahan iklim adalah penyebab utama meningkatnya gagal panen, baik itu untuk tanaman pangan maupun holtikultura seperti cabai. “Ini masalah global, dan Aceh ikut merasakan imbasnya,” kata Asrin.

Sehubungan kondisi itu, salah satu negara penghasil beras terbesar di dunia, Vietnam, menghentikan sementara kegiatan ekspornya karena bermaksud mengamankan cadangan beras nasional mereka.

Pada 2010, lanjut Asrin, hujan terjadi hampir sepanjang tahun di Aceh, meskipun di musim kemarau. Kegagalan panen yang terjadi sebagian besarnya disebabkan oleh banjir. Perubahan iklim ini juga menjadi perhatian khusus pemerintah pusat, sehingga beberapa waktu lalu digelar rapat di Jakarta yang dihadiri seluruh daerah dan lembaga teknis terkait.

Dalam pertemuan di Jakarta, diungkapkan bahwa tahun 2011 bakal ada ancaman cuaca yang sangat ekstrem yang bisa mengancam produktivitas pertanian. “Tahun 2011 ini diperkirakan akan ada musim kering (kemarau) yang ekstrem dan musim basah (hujan) yang ekstrem. Ini bisa mengancam ketahanan pangan,” ucap Asrin.

Diakui Asrin, hampir setiap tahun Aceh mengalami surplus beras. Tetapi seperti diprediksikan Bulog, 60 persen dari total produksi gabah Aceh mengalir ke luar daerah. Mengacu angka produksi padi 2010 sebanyak 1,62 juta ton, maka berarti ada 976.527 ton padi yang mengalir ke luar. Sementara yang kembali ke Aceh dalam bentuk beras hanya 5 persen. “Itu mekanisme pasar. Tergantung pada suplai dan demand. Kita tidak bisa bendung itu. Makanya, meski Aceh surplus, stok beras menipis dan harga naik,” kata Asrin.(yos)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: