REDD+ dan Bayang-bayang Korupsi


Banyak pihak yang pesimis dengan munculnya program REDD+ yang tengah digalang oleh pemerintah. Kepesimisan itu muncul karena REDD+ hanya dilihat sebagai mekanisme jangka pendek dengan kepentingan-kepentingan sesaat saja.

Demikian dikatakan Deputi I Unit Kerja Presiden untuk Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan (UKP4), Heru Prasetyo yang berbicara dalam Kongres Kehutanan Indonesia (KKI) V di Jakarta, Kemarin (22/11). Heru mengantikan Kuntoro Mangkusubroto yang dijadwalkan menjadi Keynote Speech dalam diskusi pembuka Kongres akan tetapi tidak dapat hadir.

Heru menegaskan bahwa tidaklah benar bahwa REDD+ hanya menguntungkan dalam jangka pendek semata. Menurutnya REDD+ justru mencoba untuk melestarikan hutan dengan kepentingan jangka panjang.

“Kita ingin mengembalikan tema besar bahwa hutan merupakan kunci dari kelangsungan kehidupan makhluk hidup di masa yang akan datang. Bukan hanya untuk kepentingan pendek saat ini,” terangnya.
Hutan, lanjut Heru, merupakan aset dan sumber daya terbarui terbesar yang dimiliki oleh bangsa ini. Besarnya aset itu, juga dibarengi dengan suburnya konflik  yang membayangi di sektor kehutanan tersebut. “Tak dapat dipungkiri, konflik tersebut sudah menjadi warisan sejak masa kolonial, dilanjutkan di era Orde Baru hingga saat ini,” kata Heru.Di masa orde baru, sektor kehutanan sudah dikapling-kaplingkan oleh para pengusaha yang disokong oleh militer dan birokrat demi keuntungan kelompoknya semata. Eksploitasi besar-besaran pun tak dapat dihindarkan. Kerusakan lingkungan dan ketidakseimbangan ekosistem yang saat ini menimbulkan berbagai dampak seperti bencana merupakan warisan dari sifat eksploitatif rezim Orba.

Hal tersebut senada dengan pemaparan yang dikemukakan oleh Wakil Presiden RI Boediono dalam pembukaan kongres pagi tadi.  Menurutnya, sejarah pengelolaan hutan di masa lalu memberikan pelajaran penting bagi kita untuk lebih berhati-hati dan berpikir jauh ke depan dalam mengelola sektor kehutanan.

“Bencana banjir, longsor dan perubahan iklim merupakan dampak yang  harus kita tanggung akibat praktik-praktik eksploitatif yang dilakukan di masa lalu. Ini harga mahal yang harus kita tanggung. Oleh karena itu, kongres ini menjadi forum terbaik dalam menemukan dan merumuskan gagasan terbaik demi keberlangsungan generasi yang akan datang,” paparnya.

Kompleksnya masalah yang merundung sektor kehutanan kita menjadi salah satu alasan munculnya program REDD+. “REDD+ menjadi langkah strategis paling mungkin untuk menyelamatkan hutan kita dan melestarikan yang sudah ada. Peemerintah sendiri sudah merencanakan berbagai langkah penting untuk mendukung program REDD ini,” ujar Heru lagi.

Salah satu langkah penting yang tengah disiapkan pemerintah, tambah Heru, ialah penataan peraturan dan UU yang akuntabel, suistinable dan berkeadilan. “Kami juga mendukung DKN sebagai mitra pemerintah dalam mengatasi konflik tenurial dan mendukung masyarakat adat untuk mengakses hutan demi kelangsungan dan kelestarian lingkungan,” katanya.

Hanya saja, langkah tersebut dibayang-bayangi oleh kekhawatiran akan adanya penyelewengan dan perilaku koruptif yang saat ini menjamur. Desentralisasi kewenangan yang melahirkan otonomi daerah sendiri kerap menjadi pisau bermata dua dengan maraknya korupsi yang dilakukan oleh para kepala daerah.

“Memang, ketakutan akan adanya korupsi seperti dana reboisasi yang terjadi di masa lalu kerap menghantui. Tapi kita harus yakin problem isu perubahan iklim juga serius. Kita harus mengubah paradigma lama. Kita juga harus membentuk lembaga pengawasan yang transparan dan akuntabel,” jelasnya.

Oleh karena itu, perlu dibangun sistem untuk pemantauan, pelaporan, verifikasi pengurangan emisi, mengisi kesenjangan informasi tentang luas dan kepemilikan hutan, dan reorientasi filosofi yang mendasari penggunaan hutan nasional dengan sistem hukum berwawasan lingkungan. Namun, dari semuanya itu yang paling penting adalah mereformasi sistem birokrasi yang selama ini masih bermental koruptif.   (KKI/Wahyu)

sumber: http://dkn.or.id/kkiv/?p=152

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: